Paluta - Tajamnews.co.id Video tentang kisah Arjuman, siswa SMANSA Halongonan, Paluta, Sumut viral. Arjuman yang dikenal aktif dan baik di sekolah, harus pergi selamanya.
Namun kepergian Arjuman tak hanya meninggalkan tangis, melainkan juga kisah yang sangat mengharuskan. Tentang perjuangannya melawan penyakit selama ini.
Arjuman ditinggal ayahnya saat berusia 5 tahun. Tak lama berselang, ibunya pun menyusul ketika ia baru akan masuk sekolah dasar. Sejak itu, ia tumbuh bersama abang yang telah berkeluarga.
Tanpa orang tua, tanpa banyak keluhan, ia menjelma menjadi sosok yang tangguh dan selalu tersenyum.
Tak ada yang menyangka, di balik tawanya yang lepas, Arjuman menyimpan rasa sakit yang tak terucap.
Saat kelas 2 SMA, ia mulai sering mengeluh sakit kepala. Kadang ia hanya pergi ke UKS, menelan obat, lalu kembali bercanda seperti biasa. Ia pandai menyembunyikan deritanya.
Memasuki kelas 3, rasa sakit itu makin menjadi. Teman-temannya sering melihatnya mengikat kepala dengan dasi atau karet. Mereka pikir itu hanya gaya atau candaan. Ternyata, itu caranya menahan nyeri yang berdenyut hebat di kepalanya.
Menjelang semester dua, Arjuman semakin sering izin tak masuk sekolah. Sampai suatu hari, kabar itu datang begitu cepat—ia tumbang.
Saat guru dan teman menjenguknya, ia baru saja pulang dari rumah sakit. Dokter menyarankan operasi. Namun entah mengapa, rumah sakit pertama menolak. Ia dibawa ke rumah sakit kedua, dan kembali ditolak. Harapan seolah dipantulkan berkali-kali.
Kondisinya kian memburuk. Di rumah sakit ketiga, Arjuman sempat koma dan dilarikan ke ICU pada Jumat (6/2/2026) sekitar pukul 03.00 dini hari.
Namum tepat pukul 15.00 menjelang Ashar, ia mengembuskan napas terakhirnya.
Kabar duka itu tiba di sekolah sekitar pukul 15.45. Bel pulang belum berbunyi. Teman-temannya masih duduk di kelas, tak menyangka bahwa rencana menjenguknya esok hari tak akan pernah terwujud. Tangis pecah.
Setelah kepergiannya, sebuah kenyataan memilukan terungkap. Selama dua tahun, Arjuman memendam penyakitnya sendiri: tumor otak.
Kakaknya baru mengetahuinya saat membersihkan kamar dan menemukan tumpukan obat sakit kepala serta obat tetes telinga yang disembunyikan di bawah tempat tidur. Ternyata, gendang telinganya pun sudah pecah—ia menahan sakit itu sendirian.
Arjuman memilih diam. Ia tak ingin merepotkan siapa pun. Ia tetap tersenyum, tetap hadir di kelas, tetap menjadi teman yang menyenangkan—sementara tubuhnya perlahan melemah.
Kini, yang tersisa hanyalah doa dan kenangan. Tentang seorang anak yatim yang begitu kuat, tentang seorang sahabat yang menahan perih dalam diam, tentang Arjuman—yang pergi terlalu cepat, namun akan selalu hidup dalam ingatan sahabatnya.