Simalungun - Tajamnews.co.id Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak di Indonesia ternyata menghadapi masalah serius. Terbukti berdasarkan penelusuran Tajam news di Sekolah Dasar (SD) Negeri 091498, ditemukan jika porsi makan yang disajikan diduga tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan.
”Apa yang mereka (SPPG) antarkan kemari, itu juga yang kami distribusikan pak. Tidak ada yang kami kurangi dan tambahi menu nya”, ucap seorang guru ketika dikonfirmasi (27/02).
Porsi makanan yang disajikan diduga hanya sekitar 70-80% dari harga per-porsi yang ditetapkan, sehingga anak-anak tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup, yang berpotensi menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.
Jelas Hal ini berbanding terbalik dengan janji Pemerintah, untuk melakukan evaluasi dan perbaikan program MBG untuk memastikan bahwa anak-anak di Indonesia mendapatkan gizi yang cukup. Dugaan Penyimpangan Porsi Gizi, Kepala SPPG Diduga Berdalih
Anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG), untuk balita hingga kelas 3 SD Rp 8.000, sementara kelas 4 SD tingkat SMA/SMK Rp 10.000 per paket, ungkap Eka Imam Fadli selaku Kepala SPPG penyalur MBG di SD 98, yang berlokasi dapur di Nagori Tanjung Pasir, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun (27/02).
Miris, Eka justru menjawab ’Tidak Menahu’ perihal dugaan penyimpangan porsi gizi yang disajikan, mengingat posisi nya selaku Kepala SPPG yang memiliki tanggung jawab memimpin seluruh operasional, mulai dari memastikan kualitas gizi, keamanan pangan (kebersihan/kematangan), hingga efisiensi distribusi ke sekolah.
”Kalau sesuai video yang abang kirimkan, itu porsi kecil untuk tingkat Paud sampai kelas 3 SD bang. Bukam untuk tingkat kelas 4 SD-SMA/SMK”, terang Eka.
”Waduh, gak tau pula saya bang kenapa bisa salah gitu”, jawab Eka ketika ditanyai dugaan penyimpangan porsi gizi.
Jika hal ini terus berlanjut, disangsikan justru pemanfaatan yang dituju tidak sesuai dengan tujuan semestinya—Sudah seharusnya Badan Gizi Nasional selaku lembaga pemerintah nonkementerian yang bertugas melaksanakan pemenuhan gizi nasional, melakukan ’evaluasi tegas’, mengingat anggaran fantastis yang telah digelontorkan negara telah berdampak pada efisiensi segala sektor pembangunan di Indonesia.
”Ini sangat memprihatinkan pak, jika kita hitung harga per item nya apakah sudah sesuai porsi yang ditetapkan?. Kami berharap pemerintah dapat segera mengambil tindakan untuk memastikan program MBG berjalan efektif dan anak-anak mendapatkan gizi yang cukup”, kata seorang orang tua murid ketika dikonfirmasi Tajam news seusai jam belajar. (Tim)